Wedding ring atau cincin kawin sudah menjadi ‘a must have’ yang harus ada dalam setiap prosesi pernikahan. Apapun bentuk, bahan dasar, ukuran ataupun nilainya, cincin kawin rasanya lebih dari sekedar statement bagi pasangan yang sudah menikah, yang biasanya ditempatkan pada jari manis di tangan sebelah kiri.


Nah, ternyata tradisi memakai cincin kawin ini sudah ada sejak zaman mesir kuno atau sekitar 6000 tahun lalu lho. Namun, tradisi memakai cincin kawin di jari manis tangan sebelah kiri mempunyai sejarah sendiri yang bermula saat Gereja Inggris memutuskan hubungan dengan Gereja Katolik Eropa.

Dikarenakan Gereja Katolik Eropa memberlakukan cincin kawin dikenakan pada tangan kanan yang ternyata mempunyai arti atau lambang kekuatan, maka Gereja Inggris memilih kebalikannya, dan aturan ini pun akhirnya ditulis dalam The Book of Common Prayer, buku doa Gereja Anglikan yang diterbitkan sekitar tahun 1549.

Asal muasal memakai cincin kawin di jari manis tangan sebelah kiri juga sering dikaitkan dengan sejarawan Yunani-Romawi yang hidup pada abad kedua yang menyatakan bahwa orang Mesir kuno percaya bahwa ada syaraf yang mengalir dari jari manis tangan yang terhubung ke jantung manusia yang mereka sebut sebagai vena amoris atau pembuluh darah para pecinta. Namun, hal ini dibantah oleh para ilmuan karena semua syaraf di tangan terhubung ke jantung manusia.

Memakai cincin kawin atau wedding ring memang tidak diatur dan diwajibkan dalam aturan agama atau budaya lain, namun cincin kawin itu sendiri ternyata sudah menjadi semacam tradisi atau culture yang sifatnya wajib ada dalam a must have items setiap prosesi pernikahan yang dianggap melambangkan ikatan suci sebuah pernikahan.